Mengenal Aliran Filsafat Stoicisme, Hidup Tenang No Drama

Aliran Filsafat Stoicisme

Modernis.co, Malang – Temukan ketenangan dan kedamaian hidup dengan menerapkan aliran filsafat stoicisme. Sebuah filosofi filsafat kuno yang bisa kamu pegang sebagai prinsip dasar hidupmu.

Seringkali seseorang dibuat kewalahan dan dihantui rasa gelisah dalam menghadapi berbagai masalah yang datang silih berganti. Hiruk pikuk rutinitas pekerjaan dan hubungan pertemanan kadang membuat hidup malah tidak tenang. Apalagi sering mendapati bahwa ekspektasi berjauhan dengan realita yang terjadi.

Ketidakpastian dan perasaan kecewa seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari diri seseorang sepanjang hari. Jika kamu merasakan hal tersebut, terapkan aliran filsafat stoicisme yang membuat hidup bisa lebih tenang dan damai. Banyak hal positif yang bisa dirasakan setelah mengimplementasikannya menjadi lifestyle,

Aliran filsafat stoicisme bukan tentang menjadi tanpa emosi atau acuh tak acuh terhadap semua yang terjadi di kehidupan. Stoicisme merupakan pendekatan praktis untuk menyikapi semua tantangan dengan lebih bijaksana. Filosofi ini menekankan bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Manusia memiliki kendali pada apa yang bisa mereka kendalikan. Namun manusia harus bisa menerima apa yang tidak bisa mereka kendalikan. Pertama mari kita mengenal stoicisme.

Apa Itu Stoicisme?

Aliran Filsafat Stoicisme mengajarkan kita untuk membedakan antara hal-hal yang berada di bawah kendali kita dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Hal yang bisa dikendalikan yakni pikiran kita, suasana hati, penilaian terhadap suatu hal, tindakan atau respon kita terhadap suatu hal tersebut. Sebaliknya, hal-hal di luar kendali kita seperti tindakan orang lain, penilaian orang lain ke diri kita, cuaca, kejadian masa lalu, atau bahkan nasib.

Seorang Stoicisme disebut Stoic. Mereka percaya bahwa sumber penderitaan bukan berasal dari apa yang terjadi di hidup manusia. Akan tetapi reaksi atau respon yang dilakukan manusia setelah sesuatu itu terjadi. 

Sebagai contoh, saat macet di jalan, seorang penganut aliran filsafat stoicisme tidak akan marah dan memilih berdamai dengan situasi. Mereka sangat menyadari bahwa kemacetan adalah hal di luar kendali mereka. Yang bisa mereka kendalikan adalah merespons. Mereka bisa memilih apakah akan memberi respon kesal atau menggunakan waktu itu untuk mendengarkan podcast atau bermeditasi. Tentunya pilihan kedua akan jauh lebih baik dan menyejukkan.

Pilar Utama Stoicisme

Untuk menerapkan aliran filsafat stoicisme ini, ada beberapa pilar utama yang perlu dipahami. Diantaranya kamu perlu memiliki kemampuan lebih untuk mengendalikan diri, bertindak lebih bijaksana, dan penerimaan pada kenyataan yang berada di luar kendalimu.

Pertama, mengendalikan diri adalah kemampuan untuk menahan diri dari penilaian atau penyikapan impulsif terhadap suatu hal. Ketika sesuatu yang buruk terjadi, kamu bisa menahan diri daripada menyimpulkan sesuatu dengan spontan tanpa pertimbangan. Seorang stoic perlu memperhatikan dan bertanya “apakah ini buruk dan apa yang bisa aku lakukan agar ini menjadi lebih baik untukku?”.

Kedua, bertindak dengan lebih bijaksana akan melahirkan kebaikan. Ini bukan hanya tentang menahan diri atau acuh, namun ketika kamu perlu bertindak itu adalah tindakan yang benar dan bermoral. Tindakan yang bijaksana akan lebih menyejukkan dan bisa membuat orang lain terbantu atau lebih terbuka. Sehingga setelah kejadian atau hal menegangkan selesai, kamu bisa kembali menjalani kehidupan dengan baik tanpa drama.

Ketiga, menerima kenyataan merupakan kemampuan untuk menerima bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai keinginan kita dan kendali kita. Terbiasa menerima kenyataan akan membuat kita belajar untuk mengontrol rasa kecewa dan frustasi berlebihan. Ini merupakan cara agar kita bisa lebih bersyukur atau amor fati,

Bagaimana Menerapkan Stoicisme?

Step 1, Untuk menjadi stoic kamu perlu mencatat hal-hal yang tidak membuatmu nyaman atau kamu tidak menyukainya. Catat juga apa yang perlu kamu lakukan lebih awal atau lebih baik agar hal-hal yang kamu catat di poin sebelumnya tidak terjadi atau mampu diantisipasi dampaknya. Sehingga meskipun realita tidak sesuai harapanmu, kamu bisa menerima dan mampu menata rasa rasa penyesalan atau kecewa.

Step 2, Kamu perlu merenungkan kembali apa saja yang telah terjadi dan tetaplah bersyukur. Kamu perlu menyadari bahwa apa yang terjadi di luar kendalimu adalah hal yang bukan prioritasmu. Kemudian tata kembali apa yang akan kamu lakukan hari ini. Dan merencanakan respon atau reaksi bijak seperti apa yang bisa kamu berikan pada hal-hal yang mungkin terjadi.

Step 3, Ketika semua kegiatan harian selesai, luangkan waktu sejenak sebelum tidur untuk merenungkan kembali apa yang sudah kamu lakukan hari ini. Dan bersiap untuk menjadi lebih stoic di hari selanjutnya. 

Penganut aliran filsafat stoicisme perlu menyadari bahwa manusia hanya bisa melakukan di masa kini dan merencanakan di masa depan. Di masa sekarang kamu butuh reaksi yang bijaksana dan di masa depan kamu bisa menjadi versi lebih baik. Tanpa perlu cemas atau mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, serta tidak perlu menyesali masa lalu yang sudah terjadi.

Hidup dengan aliran filsafat stoicisme adalah sebuah perjalanan panjang menjadi pribadi yang lebih legowo, bijak, dan arif. Perjalanan menemukan ketenangan sejati yang lebih privasi. Bukan dengan mengubah dunia di sekitar kita, melainkan dengan mengubah cara memandang dunia dari dalam diri kita sendiri.

Penulis : Imam Fahrudin (Guru MI Muhammadiyah Manarul Islam Kota Malang)

editor
editor

salam hangat

Leave a Comment